Kita Bergantung pada Plastik tetapi, Sekarang Kita Tenggelam di Dalamnya

“Pengabaian adalah kebahagiaan” sebuah pepatah yang berarti jika seseorang tidak menyadari fakta atau situasi yang tidak menyenangkan, ia tidak akan pernah bisa diganggu olehnya. Kasus dan masalah plastik yang terlupakan disebabkan karena pengabaian tersebut. Kita menggunakan produk plastik dalam skala besar, tidak menyadari fakta bahwa ada banyak sekali masalah yang disebabkan plastik terhadap lingkungan dan akhirnya mempengaruhi kita.

Bicara tentang polusi laut karena produk plastik; sumber utama sampah plastik di lautan kita adalah kantong plastik dan kemasan plastik. Partikel-partikel ini berukuran besar dan partikel ini terurai menjadi 5 mm partikel plastik, yang disebut plastik mikro, yang berujung pada polusi plastik mikro di laut. Walaupun ada banyak cara yang direkomendasikan untuk mendaur ulang sampah plastik, tidak semua sampah plastik bisa didaur ulang dan juga tidak semua negara mempunyai kemampuan mengadaptasi teknik tersebut. Karena kekekalan dari plastik tersebut, membutuhkan waktu lama untuk terurai karena sudah ada di sana begitu lama, yang mengakibatkan pembuangan sampah plastik malah mengisi lahan kosong dan sebagian dari sampah plastik tersebut berakhir di sungai-sungai dan akhirnya ke lautan.

Penggunaan butir-butir mikro plastik dalam produk sehari-hari juga berkontribusi terhadap polusi laut seperti ketika kita menggunakannya untuk perawatan pribadi kita, mereka hanyut melalui saluran air dan akhirnya berakhir di lautan. Menurut laporan PBB tahun 2010, ditemukan antara 5 juta hingga 13 juta ton plastik di lautan yang pada akhirnya ditemukan di badan perairan. Menurut profesor biologi kelautan di Universitas Plymouth, seperempat ikan yang dijual di pasar mengandung plastik.

Hasil mengejutkan datang dari penelitian di tahun 2015 di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa hampir 8,1 triliun butir-butir mikro berakhir di lautan setiap harinya. Namun, tak lama setelah penelitian ini, perusahaan seperti Clarins dan Procter & Gamble memutuskan untuk menghilangkan butir-butir mikro dari produk mereka. Fakta-fakta ini mencerminkan ancaman yang kita hadapi.

Namun, dengan hanya membahas tentang masalah ini tidak akan menyelesaikannya maka “Apa yang harus kita lakukan”, jadi inilah beberapa contoh di mana masalah ini dapat diatasi:

  • Pada Juli 2016, Lembaga Grantham di Imperial College London menyarankan bahwa dengan mengelola sampah plastik pada sumbernya sendiri adalah cara paling efektif untuk mengurangi polusi laut. Mereka percaya bahwa plastik tidak boleh dibuang karena dapat menjadi bahan baku yang berharga di berbagai tempat seperti dalam pembangunan jalan.
  • Rwanda meluncurkan rencana Vision 2020 di mana mereka melarang penggunaan kantong plastik yang tidak dapat diurai oleh bakteri dan makhluk hidup pada tahun 2008. Hasil dari rencana ini adalah Rwanda menjadi negara bebas plastik pertama di dunia.
  • Pada 14 November 2017, The Blockchain Development Company (Start-Up Teknologi) menghitung dan menetralkan plastik tahunan organisasi dan keluarga dengan membeli kredit menggunakan Teknologi Blockchain.
  • Pada 16 Mei 2018, National Geographic meluncurkan “Planet Or Plastic?” – sebuah inisiatif multilayer untuk mengurangi plastik sekali pakai dan dampaknya terhadap samudra dunia. 

“Contoh ini jangan membuat kita percaya bahwa jika kita bertekad untuk melawan masalah ini maka itu dapat diatasi secara efektif, jadi mari kita bersumpah bahwa kita akan berdiri bersama dan melawannya dengan segala cara yang memungkinkan untuk kita lakukan.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *